Apakah Rasa Nasionalis Kita Telah Luntur..?

Pagi ini tepat tanggal 17 Agustus 2009, kita rakyat  & bangsa Indonesia merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan yang ke-64 Tahun. Di segala penjuru negeri, masyarakat bersuka cita merayakannya. Berbagai macam acara di gelar menyambut HUT RI. Tasyakuran di gelar di mana-mana dengan nasi Tumpeng yang wuih… dengan lauk ayam goreng lengkap dengan telur tak lupa lalapan ketimun dan bacem tempe tahu yang mengundang selera. Anak-anak pun tidak mau ketinggalan ikut lomba balap karung, sendok kelereng, lari Bakiak dan masih banyak lagi.

Tapi suka cita masyarakat kita mungkin tidak sepenuhnya mewakili sebagai rakyat bangsa yang telah merdeka.

Pagi ini ketika saya mendengarkan berita di Televisi, ada sesuatu berita yang mengusik hati. Ketika Puncak Peringatan Detik – Detik Kemerdekaan yang rutin di adakan di Istana Merdeka tidak ada satupun mantan presiden RI yang hadir. Saya kaget sekali kenapa ini terjadi. Ketika anak-anak SD, SMP, SMA ataupun pelajar yang lain begitu semangat berangkat pagi-pagi untuk mengikuti Upacara HUT RI, di kalangan negarawan malah sebaliknya.

Ada  ancaman Bom di Puncak Peringatan Detik – Detik Kemerdekaan yang di dengungkan para teroris bukan lah sebuah alasan untuk pembenaran diri.

Mari kita renungkan apakah ini terjadi pada pahlawan kemerdekaan yang rela mempertaruhkan semuanya dalam perjuangan  merebut Kemerdekan dari para penjajah. Ketika mereka menantang meriam dengan bambu runcing, menantang tank & panser penjajah dengan badan & raga mereka…

Sungguh ironi & menggelikan memang. Tapi mari kita jangan berpasangka dulu kita doakan aja moga – moga beliau negarawan yang tidak bisa hadir dalam Upacara HUT RI bisa hadir tahun depan. Amin

Ketika hati saya mulai dingin, ada berita lagi yang terdengar,tidak dinyanyikannya lagu kebangsaan Indonesia Raya pada saat pembukaan pidato kenegaraan Presiden RI menyambut HUT Kemerdekaan ke-64. Meskipun pihak DPR sudah menyatakan permintaan maafnya melalui Ketua dan Sekjen DPR, tentang insiden tersebut tak urung menuai kritikan dari masyarakat, permintaan maaf menurut saya dinilai tidak cukup. Perlu ada pertangungjawaban secara intitusional lembaga Dewan Perwakilan Rakyat.Kejadian tersebut sangat memalukan dan disayangkan, karena pada acara resmi kenegaraan seperti ini lagu Indonesia Raya wajib diperdengarkan atau dinyanyikan. Lagu Indonesia Raya adalah lagu kebangsaan Indonesia. Di samping itu, lagu tersebut merupakan simbol sakral yang tidak seharusnya luput dilakukan. Rapat yang mengagendakan Pidato Kenegaraan Presiden itu merupakan acara resmi kenegaraan.

Ironi memang di Negera Indonesia yang telah merdeka ini, hanya hati kita yang belum bisa merdeka.

Apakah  ini tanda – tanda rasa nasionalisme kita yang telah luntur atau memang kesadaran kita tentang makna kemerdekaan yang belum kita miliki.

Semoga tidak.

Dirgahayu Negeriku Dirgahayu Bangsaku. MERDEKA..!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: